Are you being micromanaged? No, it’s “horenso” 😅😆😂
Mengupas sedikit tentang kultur Jepang. Waktu baca tulisan temen saya yang tinggal di US (siapa hayoo) tentang micromanaging, saya kedip2 bingung. Memangnya apa yang salah dengan micromanagement? Kenapa konsepnya terdengar natural di kuping saya?
Ternyata 😅😆 mindset saya udah Jepang banget 🙈
Sampai tepok jidat baca2 artikel ini 😆
https://japanintercultural.com/free-resources/articles/are-you-being-micromanaged-no-its-horenso/
Hourensou (houkoku–renraku–soudan = report, contact/communicate, consult/discuss/ask advice) itu proses sehari2 di Jepang. Ada progress report secara berkala, klo ada apa2 ngabarin (ngontak), dan kalau ada yang kurang jelas bisa konsultasi/diskusi. Kebiasaan ini kayanya diimplementasikan sehari-hari juga di masyarakat pada umumnya.
Tiap pagi saya harus report berapa suhu badan bocah ketika bangun tidur. Kalau suhu badan di atas 37.5 derajat bocah nggak boleh ke daycare, tapi kalau di atas 37.3 aja udah kena komen “Kok suhu badannya lumayan tinggi ya..” – wadoooh, pressure pisan. Tapi sebagai ‘balasannya’, tiap sore saya dapet report bocah hari ini makan siangnya habis apa nggak, kalau misalnya ga habis, sisa di bagian mana. Kadang2 waktu lagi jemput saya dapet bonus cerita dari Sensei tentang bocah hari ini ngapain, kalau misalny bocah lagi suka lomba mewarnai bareng teman2nya, atau kalau bocah akhir-akhir ini lagi deket sama temennya yg ini dan itu 😀
Inilah salah satu sebab kenapa saya banyak mengalami konflik budaya di sini 😅😆 Karena bacaan referensi saya sebagian besar dalam bahasa Inggris, dengan pertimbangan kalau ada apa2 lebih mudah untuk tanya-tanya dan negosiasi dalam bahasa Inggris (e.g., kalau dibutuhkan saya bisa bawa/nunjukin referensi bacaan saya dalam bahasa Inggris) daripada bahasa Indonesia.
Jadilah ketika memulai masa parenting, di kepala saya clash 3 budaya sekaligus: Indonesia, US (karena bahan bacaan saya 90% dari sini), dan Jepang X-D Contoh paling gampang (dan yang bisa disharing) adalah co-sleeping/tidur bersama bayi. Kalau baca artikel2 parenting western, co-sleeping itu a big no-no karena beresiko suffocating bocah. Tapi begitu ngobrol sama orang Indonesia dan orang Jepang, tiba2 saya jadi alien karena overthinking masalah tidur 😅😆🤣
Itu baru satu hal aja, masih banyak hal-hal di balik layar yang nggak bisa saya sharing di sini. Tapi jadinya setelah punya anak saya jadi semakin aware kalau situasi setiap negara nggak selalu bisa dibandingkan apple to apple, karena konteksnya beragam sekali, termasuk sistem asuransi kesehatan (yang merupakan bagian dari social security) dan situasi/sistem finansial dari 3 negara ini ternyata super beda, menarik untuk disimak, dan ternyata berpengaruh ke interaksi masyarakat dalam kehidupan sehari2.
–
Bacaan2 menarik lainnya (kalau ada yang penasaran):
“For example, by having each team member report the status to his or her manager, the manager is able to identify problems at an early stage. The manager can then oversee the entire project to ensure that the delivery date, sales targets, and other goals are met by allocating the missing resources or applying corrective measures to the problems.”
https://www.inventurejapan.com/culture/business/ho-ren-so
Ilustrasi perbedaan ekspektasi reporting & information sharing di Jepang vs negara western. Orientasi pekerjaan Jepang vs western: group vs individualism. Less segmented work & responsibilities, report automatically without being asked, process-oriented (report on progress, not only result or problem),.
https://www.japanconsultingoffice.com/reporting-different-japanese-companies/
Contoh kritik terhadap work culture di Jepang:
https://eastasiaforum.org/2022/11/24/japan-must-reform-its-inflexible-work-culture/
Hourensou & ringi decision making process:
https://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_management_culture