Berkenalan dengan Bullet Journal
Suatu pagi di bulan Juni 2016, ketika saya sedang iseng2 baca Inc.com, tiba2 saya menemukan artikel berikut ini, “Is This the Most Perfect Method for Staying Organized?”
Tak menyangka, hari itu menjadi salah satu hari ‘titik balik’ saya. “#lebayAlert
Artikelnya sendiri menjelaskan tentang konsep Bullet Journal yang dikembangkan oleh Ryder Carroll. Bullet Journal ini menarik buat saya karena perlengkapan untuk mencobanya sederhana, hanya butuh buku kosong dan pulpen, tapi impact-nya besar dan ini dirasakan juga oleh banyak orang.
Bagian paling serunya? Bujo ini (panggilan sayang di internet untuk Bullet Journal) super customizable dan bisa dipersonalized menjadi gaya apapun yang disukai penulisnya.
Dari gaya Bujo yang feminin sampai maskulin, dari struktur yang super simple sampai yang agak ribet, dari pilihan-pilihan halaman yang bersifat rutin (planning bulanan/tahunan, logging day to day) sampai yang bersifat situasional (catatan2 ringan, mind journal), atau dari yang rapi (simple, hitam-putih) sampai nyeni (artsy, penuh hiasan dan warna/i), berbagai pilihan Bujo bebas dieksekusi, tergantung preferensi penulis Bujo.
Beberapa tahun setelah mencoba mempraktikkan Bujo ini, saya banyak menonton video-video di YT. Judul-judul seperti “plan with me” sangat ‘appealing’ buat saya. Saya senang menyaksikan berbagai cara orang-orang mengakali, menata, dan menghias Bujo. Rasanya seperti menemukan komunitas, dan saya jadi ikut bersemangat setelah melihat contoh Bujo-bujo yang cantik dan efektif.
Saya bongkar pasang, mencoba berbagai gaya Bujo selama bertahun2. Mulai dari awalnya berburu journal yang cantik2 di toko, sampai menemukan style sendiri (pakai binder yang di-print, jadi layout-nya customizable dan struktur Bujo-nya bisa dibongkar-pasang sesuka hati). Peralatan tulisnya pun mengalami proses coba2, dari pulpen biasa, lalu mulai mencari pulpen/spidol berwarna untuk mempercantik dan memberi highlight di point2 penting, sebelum akhirnya settle di Frixion Pen 2-4 warna.
Proses menulis Bujo ini saya lakukan selama 4 tahun pertama sampai akhir 2019. Kadang2 mengalami masa jenuh dan malas juga, jadi sempat off sekitar 3 bulanan, sebelum akhirnya merindukan efek keteraturannya dan memutuskan lanjut lagi (dengan mencoba mengimprove, menyeleksi, memper-simple proses journaling sehingga semakin sesuai dengan gaya hidup saya).
Setelah tahun 2019, karena perubahan situasi hidup, saya sempat mengalami survival mode selama sekitar 1 tahun dan tidak memilki cukup waktu dan energi untuk journaling. Di sinilah saya baru mulai mencoba memodifikasi konsep Bujo untuk dilakukan di platform Cloud (sehingga bisa saya akses dari berbagai devices). Surprisingly cara ini berhasil dan sampai sekarang Cloud-based Bujo ini merupakan cara yang paling dominan saya lakukan.
Di awal tahun 2024 ini, kira2 sudah nyaris 8 tahun berlalu sejak awal perkenalan saya dengan Bujo. Saya masih cukup konsisten mengisi personal journal setiap hari dan merekomendasikan habit journaling ini untuk siapapun yang ‘kepalanya penuh’ dan atau merasa butuh mengorganisir hidupnya.
25 Januari 2024